BANGSA kita teracuni dan ketagihan untuk sesuatu yang super negatif, pada akhirnya ini yang membuat kita semakin tertinggal jauh dari negara-negara tetangga.
Mengapa anak muda zaman ini bangga apabila sudah pernah menonton video porno? Atau sebaliknya merasa minder dan enggak gaul jika belum pernah melihatnya. Mengapa pula kata polos terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks dan pornografi dianggap sebagai sesuatu hal yang negatif bahkan bodoh?
Bangsa kita mulai melakukan pergeseran nilai. Pintar sekarang identik dengan mengetahui segalanya, mulai dari hal-hal yang baik sampai yang tidak sekali pun. Bangsa kita mulai berubah, memang seks tetap tabu untuk dibicarakan sehingga anak dipaksa untuk tidak mengetahui banyak tentang itu. Tetapi pada akhirnya pendidikan tentang seks kalah tenar dibandingkan media dan isu pornografi yang beredar bebas.
Menilik dari awalnya, semua ini dimulai dari era reformasi 1998. Reformasi 1998 mengajarkan kita bebas dalam berekspresi dan berpendapat. Pada saat yang sama pula, internet masuk ke Indonesia. Ketika itu, Indonesia belum siap dengan kehadiran dan kebebasan yang ditawarkan. Akhirnya, lewat internet pula, industri pornografi tumbuh dan berkembang. Masyarakat belum kritis, maka pembodohan pun dimulai.
Masyarakat yang terbiasa dengan budaya pemerintahan (saat itu) yang serba menerima dan takut untuk berpendapat, masih belum siap dan tidak bisa bersikap tegas untuk menolak pornografi. Kemudian para penjahat pornografi pun belum terikat oleh aturan hukum yang jelas. Sehingga pada akhirnya semakin sulit menegakkan kebenaran dan kebaikan. Juga semakin sulit saja mengatakan dan bertindak bahwa pornografi harus diberantas.
Indonesia menjadi surga pornografi, semakin mudah dan semakin murah mendapatkannya. Semua orang dapat mengakses via internet dengan cepat dan tanpa kontrol. Data dari Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) berbicara bahwa pada 2003 di Indonesia sudah ada enam judul video porno lokal, kemudian pada 2007 meningkat tajam menjadi lebih dari 500 judul video porno lokal. Pada 2008 angka itu naik menjadi lebih dari 800 judul. Luar biasa membuat miris. Mengapa untuk hal seburuk ini Indonesia gila dalam berproduksi?
Yang menyayat hati kemudian, akses kata seks idol seperti Pamela Anderson atau Miyabi di Internet dari 2007 hingga sekarang selalu menempati peringkat satu di Indonesia. Jelas pembodohan besar-besaran semakin merajalela. Mengapa bisa kita tidak segera sadar bahwa kita akan semakin bodoh dari masa ke masa?
Masalah awal dari kebobrokan bangsa dimulai dari kasus pornografi, itulah pintu gerbang untuk segala kriminalitas yang lain. Atau sebaliknya, orang yang sudah tercandu pornografi harus memiliki tempat pelampiasan, yang juga menjadi gerbang kriminalitas seksual.
Secara biologis, pornografi mampu mengeluarkan banyak sekali hormon endorfin dalam tubuh manusia, hal ini yang menyebabkan ketagihan dan akan terus meningkat secara dosis serta merusak otak. Pornografi bukan semata-mata soal perilaku seksual. Ia juga (pada akhirnya) merusak otak, merusak pikiran, dan menyebabkan perilaku kriminal. Bahkan jika kita melihat data dari google trends dengan keywords Luna, Ariel, dan Cut Tari. Mereka yang tadinya jarang diakses sebagai keywords, sekarang di internet grafiknya menjadi meningkat drastis setelah kasus video porno terakhir.
Banyak tanda yang membuktikan bahwa pornografi menyebabkan kecanduan dan menyebabkan kejahatan. Apalagi masalah kebodohan dan kesuraman masa depan, kita seperti tejebak dalam lingkaran setan dan sulit untuk berhasil keluar. Kita pun mandek jalan di tempat bahkan mengalami kemunduran-kemunduran akibat “kesenangan” sementara untuk kesengesaraan dalam waktu yang lebih lama.
Memerangi dengan tegas adalah tugas kita sekarang. Melaporkan detail kejadian kepada pihak berwenang misalnya Komisi Penyiaran Indonesia untuk mengawasi media elektronik dan media massa lain menjadi salah satu cara yang cukup efektif dan mampu kita lakukan. Berpikir kritis dan berpikir jangka panjang, Indonesia mampu menjadi lebih baik apabila pemudanya mau bersusah-susah sekarang memperjuangkan banyak hal untuk nanti Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Haniva Az Zahra
Mahasiswa Psikologi
Universitas Indonesia
Peserta Program Pembinaan SDM Strategis Nurul Fikri